pengunjung online

Selasa, 16 Juni 2015

takkan

takkan lagi kasih
takkan lagi sayang,
takkan  lagi sakit,
takkan lagi perih,

kuat ku berlari,
tak kuat ku mengiringi,
lambat ku berjuang,
terlalu jauh harapan hilang,

ku fahami kenyataan,
aku gagal ditengah jalan,
kasih ku takkan jelas sampai,
ku tlah lama tergantikan...

ceritanya..

mungkin ku kan merindukan angin malam hari,
kan ku rindui jalanan sepi pengantar lelap tidurku,
setelah ku jajaki keceriaan saat bertemu,
sesosok indah jelita dalam hatiku,

kan jadikan dia pelita di kegelapan,
kan jadi harapan di tanah gersang,
imbuhan pelengkap dalam sebuah kalimat,
melodi pemanis sebuah ritme distorsi,

dia bagai hadiah dalam karunia Nya,
yang selalu mengantarku di lelap istirahatku..

namun kini dia pergi,
bersama seseorang yang membahagiakannya kini,

sungguh membahagiakan,
bahagialah kasih,
bahagialah cinta,
aku kan duduk manis tersenyum dalam airmata...

AKHIR BARU TERAKHIR

mungkin hanya dedaunan yang bisa berguguran di musim semi,
atau seorang hamba yang tertunduk lewat cermin dalam kamar gelapnya,
hadiah terakhir seorang bidadari hanyalah sebentuk keikhlasan,
dan hukuman bagi sang pujangga adalah kertas harapan yang berterbangan,

didalam lubuk yang paling dalam,
ada hidup ilalang keinginan,
bentuk lain hitam adalah kasihnya sayang,

hidupkan lagi sebuah genggam rasa itu,
kubuat hadiah manis untukku sendiri,
aku hibur hargadiri ini dalam relung esok pagi..

aku pamit untuk kesekian kali,
hidupmu adalah yang kucintai,
aku hanyalah sebersit kertas usang dalam waktu,
aku berhenti disini,
tangisan ini biar berceceran dalam jalanan malam,
aku kan lagi baru tuk berakhir disini,
biar ku hidup dalam duka yang bahagia lagi....

selamat malam bidadari,
waktu kan melupakanku,
walau aku diam menuggu,
aku harus berbalik malu,
akan begitu sayangnya diriku..

padamu....