pengunjung online

Minggu, 05 Juli 2015

Puisi sakit hati

Inilah resiko ku yang paling kutakutkan dulu,
Saat aku yakinkan diri akan pilihanku,
Atas dirinya yang selalu meminta ketulusan padaku..

Sebelumya ia selalu meminta ku akan yakin atas cintanya,
Dia tawarkan cinta sederhan yang diagungkannya.
Seperti cintanya bisa membalas ketulusanku,
Saat aku belum yakin akan pilihanku,
Namun,

Ternyata cinta itu sama saja,
Sama dengan cinta yang mengharap lebih daripada sederhana,
Akhirnya aku tahu jua,
Dari hal yang selalu dimintanya,
Permintaan yang membuatnya kecewa sendiri,
Terlalu egoialah dia,
Terlalu tega lah dia,
Saat dia buang satu ketulusan ini,
Saat aku sedang kesusahan ini,
Malah dia memaksaku untuk berlaku tak wajar,
Dan akhirnya dia berhasil...

Selamat untukmu kasih...

Kau berhasil menyingkirkan aku,
Aku yang mengecewakan ini,
Sebutlah aku yang buruk dimata keluarga dan temanmu,
Kau bilang itu karna perilaku diriku sendiri,
Benar...
Itu aku yang membuatnya begitu,
Tapi pernah kau berfikir kenapa aku begitu?

Itu karena sikapmu padaku,
Yang tak lagi mengenalku,
Kau sudah punya teman yang lebih menjagamu,
Kau sudah punya kekasih yang lebih memelukmu,

Kau sekarang tak butuh lagi orang sepertiku dulu,
Yang menghibur kesendirianmu,
Mendengar keluh kesah kesedihanmu,
Saat terpuruk dalam diam mu,

Itu yang pernah kulakukan dahulu,
Yang sekarang bagai coretan kertas memo yang terlupakan waktu,
Diganti oleh lembaran lembaranmu yang baru,
Yang akan menaruh duka mendalam akan sikapmu...

Sakit ini mungkin kan abadi,
Walau ku lupa akan wajah dan namamu,
Tapi pasti aku kan ingat betapa sakitnya peristiwa beberapa waktu lalu,
Saat aku diyakinkan seorang perempuan,
Yang meminta cinta dan ketulusan,
Dalam kasih dan kesederhanaan,

Dan aku sudah membuktikannya padamu,

Tapi inilah balasannya,
Bagi ketulusanku,
Cinta sederhanaku,
Yang engkau selalu minta dulu,

Kau mungkin berkelit karena keadaan dirimu,
Keadaan aku yang sekarang buruk dimata mu dan sekitarmu,
Tapi siapa yang buatku melakukan itu?
Karnamu sendiri...

Tuhan,
Terimakasih engkau mulai menghapuskan peristiwa2 manis itu,

Tuhan,
Lupakan aku tentang kerinduanku padanya,
Lupakan juga suaranya yang selalu membuatku merindukannya,
Lupakan perasaan nyaman itu dikala aku memeluknya,
Dan tuhan lupakan aku akan nama dan wajahnya ...


-augie-